Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Don’t underestimate with the power of Hug and Run

Kronologibayu- “Tak sabar ingin segera merasakan hari minggu tanggal 3”, Itu adalah gambaran perasaan yang semakin menguat saya rasakan di H-3 menjelang duel antara Mayweather Vs Pacquiao. Entah kenapa, perasaan itu semakin hari semakin menguat. Lebih-lebih di hari  sabtu atau satu hari menjelang duel. Di hari sabtu kala itu perasaan saya semakin tak karuan, tidur tak nyenyak dan makan pun tak enak. Mungkin hal ini kedengarannya lebay, tapi percayalah wahai para pembaca, sebenarnya ini adalah kata-kata yang berlebihan.


foto fight of the century, floyd mayweather vs pacquiao, pacman

Munculnya rasa ketidaksabaran saya mungkin karena terhipnotis oleh tag line “The Fight of the Century” pada laga tinju tersebut. Harus saya akui, strategi pemasaran yang cukup pintar telah dilakukan oleh kedua belah pihak guna memunculkan rasa ketidaksabaran pemirsa untuk segera menyaksikan pertandingan tinju itu.

Dengan adanya rasa penasaran yang tinggi dari para pemirsa, niscaya suatu laga olahraga akan mampu mendulang nilai komersil yang tinggi.

Tingginya nilai komersil pada laga tinju Mayweather vs Pacqman ini terlihat jelas pada keuntungan yang mencapai sekitar Rp. 5,2 triliun. Keuntungan ini diklaim sebagai nilai komersil terbesar dalam sejarah laga tinju.

Mahalnya laga tinju ini juga dapat dilihat dari harga tiket kursi penonton, kursi terdepan dekat ring dijual dengan harga US$ 10.000 atau sekitar Rp.130.000.000. Dapat anda bayangkan harga 1 kursi yang diduduki hanya untuk beberapa menit itu setara 2 tahun,7 bln gaji PNS golongan IIIc atau setara 4 tahun, 6 bln gaji PNS golongan Ic.

Maaf, bukan bermaksud merendahkan rekan-rekan PNS, tapi ini adalah sebuah fakta. Paradoks memang. Ya inilah dunia showbiz. Tidak bisa kita pungkiri bahwa dunia showbiz telah masuk ke sendi-sendi dunia olahraga. Dan itu sah-sah saja, selama tidak mengurangi atau merusak nilai-nilai sportifitas dalam suatu laga olahraga.

Kembali ke benang merah>>

Bukan hanya saya saja yang tak sabar menanti duel bertajuk “The fight of the Century” itu. Saya rasa pemirsa di seantero jagat juga tak sabar menanti. Salah satu rasa ketidaksabaran oleh para pemirsa juga bisa dilihat disalah satu wilayah di Propinsi NTB.

Beberapa warga disana nampaknya juga sudah tak sabar menanti laga Mayweather vs Pacquiao dengan antusiasme yang sangat tinggi. Namun rasa antusiasme para warga terbayar dengan kekecewaan yang amat mendalam.

Kekecewaan disebabkan oleh padamnya aliran listrik. Hal tersebut tentu sangat mengganggu warga yang ingin menyaksikan laga tinju. Sontak warga berbondong-bondong mendatangi kantor PLN dan merusak kantor dengan lemparan batu.
Berita selengkapnya Klik Link>>

Itu baru laga tinju, coba kalau listrik padam di laga final FIFA World Cup, tak terbayang bisa-bisa jadi Barbeque black pepper tu kantor,. Heemm, yummi. hehe

Oke Lanjut,..

Akhirnya hari minggu yang dinanti pun tiba. Pagi itu jam 9 pagi, saya langsung menuju rumah Pak De saya untuk menyaksikan acara Tinju yang bertajuk “The Fight of The Century”. Rumah beliau hanya berjarak 10 meter disebelah selatan rumah saya.

Saya menonton di rumah Pak De karena TV saya sudah tidak asik lagi, semenjak antenenya rusak. Jadi, hari-hari TV saya hanya menyuguhi tayangan berupa kawanan semut. Entah, itu semut sedang OUTBOND atau semut sedang orasi tolak kenaikan harga Elpigi, tapi yang jelas tu semut banyak banget berada di dalam TV saya. Untunglah, TV saya ini anaknya baik, dia mengijinkan saya berpaling ke TV tetangga. Dengan demikian saya bisa menyaksikan laga tinju dengan baik tanpa ada kawanan semut yang mengganggu.

Pagi itu saya juga mengajak adik laki-laki saya (8 th) untuk menonton. Pada awalnya dia menolak keras karena dia sedang asyik bermain mainannya. Namun berkat sedikit intimidasi dan tipu muslihat akhirnya dia mau saya ajak menonton tinju. (semoga saya tidak melanggar hak asasi anak ). Tujuan saya mengajak adik adalah untuk mengenalkan dunia olahraga dan juga mengajak adik saya menjadi salah satu saksi mata “The Fight Of The Century”

Kami tiba di rumah Pak De jam 09.00 wib dan ternyata Partai utama dimulai pada pukul 10.00 wib. Hal tersebut membuat rasa ketidaksabaran saya muncul kembali. Terpaksa saya menunggu dengan menonton sajian partai tambahan. Namun tak berselang lama, akhirnya partai yang dinanti-nanti tiba.

Partai pun dimulai dengan ceremony kecil berupa pengumandangan lagu kebangsaan masing-masing petinju yang dilanjut dengan announcement mengenai profil dua petinju.

Tak lama kemudian, akhirnya penantian panjang sebuah pertarungan pun di buka oleh Michael Buffer dengan trademark catchphrase legendaris miliknya
.
.
Let’s get ready to Rumble . . . . . . . . . . . . . . .
.
.
Ronde pertama pun dimulai, kedua petinju terlihat masih jaim antara satu dengan yang lain. Hanya ada pukulan-pukulan kecil yang terlihat seperti penjajakan terhadap kekuatan lawan. Maklum ronde pertama belum begitu panas. Namun seiring berjalannya waktu, menit demi menit, ronde demi ronde, pertarungan pun semakin memanas.

Panasnya pertarungan dimeriahkan dengan begitu agresifnya serangan Pacman terhadap Mayweather. Namun sayang sekali, keagresifan Pacman tidak diimbangi oleh lawannya. Mayweather hanya melakukan pelukan dan berlari mengitari ring yang seolah-olah menghindar dari pertarungan. Melihat aksi Mayweather kala itu seperti menonton seorang balerina yang sedang latihan di kelas balet.

Melihat kejadian itu, Jujur saya akui bahwa pertandingan tersebut jauh dari ekspektasi tajuk “The Fight of The Century” yang disematkan pada laga itu. saya juga kecewa, karena ternyata laga tinju kurang bisa menjawab rasa penasaran saya akan sebuah laga yang gahar. Saya hanya melihat seorang pelari yang satu panggung dengan seorang petinju.

Disela-sela pertandingan kala itu, obrolan pun tak terelakan antara saya dan pak De. “Pak De, Ngko Yen teko ronde rolas (12), kudune ngko menang pacquiao, menang angka” ( Pak De, nanti kalau sampai ronde dua belas, seharusnya nanti menang pacquiao dengan menang angka).

Adik saya pun juga ikut nimbrung, meskipun dia tidak begitu paham apa yang ditontonya, nampaknya dia juga tidak ingin ketinggalan untuk angkat bicara. Dan kata-kata dari adik saya ini adalah kata yang paling saya ingat ditengah lesunya laga Mayweather vs Pacman kala itu, adik saya pun berbicara,
.
.
“Iklane og sitikmen yo”. . . . . . ( iklannya sedikit sekali ya)
.
.
“Emangnya sinetron banyak iklannya”, Haha. Maklum, mungkin adik saya adalah salah satu korban yang tercekoki program-program tivi nasional yang menonjolkan iklan daripada konten tayangan utama, sehingga adik saya ini kaget ketika melihat tayangan tinju yang iklannya cuma sedikit/sebentar itu.

Tidak bisa dibayangkan apa yang akan terjadi jika acara tinju dunia antara Mayweather vs Pacquiao mengadopsi sistem periklanan seperti di acara-acara tivi kita dengan durasi iklan sepanjang 9 menit. Tentu saja kedua petinju akan mempunyai banyak waktu untuk rehat. Saya juga yakin, Mayweather pasti akan mempunyai energi lebih untuk berlari mengitari ring. LOL

Kembali ke benang Merah >>

Ronde demi ronde akhirnya telah dilalui dengan lancar tanpa ada halangan suatu apa pun dan kedua petinju nampak masih segar bugar serta tak terlihat adanya kerusakan serius di wajah mereka. Maklum, dari ronde ke ronde hanya terlihat adanya pelukan dan lari menghindar dari salah satu petinju (sebut saja Mawar). Agresifitas Pacqman seolah tak diimbangi oleh si Mawar ini. Tentu saja hal tersebut menyebabkan jarangnya terjadi jual beli pukulan yang hebat antar kedua petinju.

Secara kasat mata terlihat jelas bahwa hanya pukulan agresif dari Pacqman yang lebih dominan tersaji disepanjang laga. Saya semakin yakin bahwa Pacqman pasti akan memenangkan laga dengan menang angka. Namun, secara perlahan dan pasti, pengumuman hasil nilai dari masing-masing juri telah memudarkan keyakinan saya. Ya, benar sekali. Ternyata si Mawar yang sepanjang laga hanya menahan dengan pelukan dan menghindar dari pertarungan justru keluar sebagai kampiun. Publik pun bertanya-tanya, kog bisa ya?.

Saya juga heran, “kog bisa ya?”. Saya menduga pasti ada “permainan” dibalik laga tinju kala itu. Ya mau bagaimana lagi, sang juara sudah ditetapkan, masa’ harus membawa hasil keputusan laga ke PTUN, untuk menggugat keputusan juri. Hehehe. Biarlah waktu yang mencatat siapa juara yang sesungguhnya, asyik……

Bukan hanya saya saja yang heran dan merasa kecewa terhadap hasil pertarungan. Di TV swasta nasional yang menayangkan laga tinju tersebut, nampak jelas bahwa Analis tinju sekelas bung M. Nigara pun juga mempertanyakan hasil pertarungan tersebut. Analis tinju yang satunya dan si Presenter acara juga merasa heran terhadap keputusan penilaian dari juri. 

Selain itu, Keheranan pun juga terjadi pada publik di luar negeri. Hal ini menandakan bahwa ternyata tidak hanya publik di Indonesia saja yang mempertanyakan penilaian juri. Ternyata orang luar sana juga nampak kecewa dan heran, bahkan komentar-komentar miring juga keluar dari mereka. Cek saja komentar yang ada di medsos atau media online luar yang membahas tinju antara Mayweather vs Pacqman.

Dibawah ini adalah beberapa bukti bahwa publik negara luar juga merasa heran. Sumber ini saya ambil dari Medsos yang beralamatkan di BBC dan 9Gags.

   
BBC

9Gags


Dari beberapa komentar diatas, saya paling suka dengan komentar milik Peter Andra. Dia mengatakan kalau pelukan Mayweather ke Pacquiao pada saat pertarungan tinju, jumlahnya lebih banyak daripada jumlah pelukan keluarga Peter terhadap diri Peter

Komentar heran pun juga datang dari sang petinju sendiri. Dalam interview di akhir laga dia mengungkapkan keheranannya. Saya kira komentar Pacqman ini lebih dahsyat daripada pukulan demi pukulan yang telah ia lancarkan ke Mayweather. Ini dia potongan komentarnya,

           *(komentar Pacquiao setelah Mayweather)

Beberapa fakta yang Saya catat setelah berakhirnya tinju antara si "Mawar" vs Pacqman.
  1. Laga yang memiliki tag line “The Fight of the century” ini, jauh dari ekspektasi publik akan sebuah laga yang gahar dan eksklusif.
  2. Mayweather adalah petinju pertama yang mampu menunjukan kepada dunia bahwa Pelukan dan lari menghindar lebih hebat daripada upper cut, jab, hok kanan maupun kiri.
  3. Catchphrase Let’s get ready to rumble milik Michael Buffer lebih memacu adrenalin penonton daripada jalannya tinju.
  4. Publik dunia merasa kecewa dan heran terhadap hasil pertandingan.
   
Terlepas dari apa yang telah saya tulis diatas, saya berjanji pada suatu saat nanti akan menceritakan kepada anak saya bahwa pelukan dan lari dalam olahraga tinju mampu mengantarkan seorang petinju menjadi juara. *Don’t underestimate with the power of Hug and Run.

-Sekian-