Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Segelintir tawa dari acara bela sungkawa

Kronologibayu- Cerita kali ini saya akan berbagi kisah tentang apa yang saya lihat, dengar dan rasakan ketika menghadiri acara bela sungkawa. Saya mendapati sebuah hal yang menurut saya aneh dan lucu pada saat itu. Cerita yang lucu menurut saya ini bukan bermaksud untuk menertawakan acara bela sungkawa.  Cerita ini adalah sisi lain dari rentetan langkah ketika saya akan menghadiri acara bela sungkawa.

Hidup, mati, jodoh, rejeki itu ada di tangan Tuhan. Kita sebagai manusia hanya bisa berencana dan Tuhan yang menentukan. Kita tidak tahu tentang apa dan kapan ujian datang dalam hidup. Kita tidak tahu siapa jodoh kita nanti, berapa rejeki yang akan kita peroleh dan kapan kita akan mati.

Dapat di kata bahwa semua itu adalah misteri. Misteri Illahi yang tak akan pernah umat Nya mengetahui. Semua tentang hidup, mati, jodoh dan rejeki adalah hak preogatif Tuhan yang tidak bisa diganggu gugat. Kita hanya bisa berdoa dan memohon agar diberi kebaikan dan kelancaran dalam menjalani hidup.

Dari empat elemen diatas yaitu hidup, mati, jodoh dan rejeki, di sini Saya ingin bercerita tentang elemen yang kedua. Kedengarannya memang horor tapi inilah cerita yang akan saya ulas. Kematian adalah suatu kepastian. Kita semua akan kembali kepada –Nya.

Baik Langsung ke jalan cerita>>

Tepat pada hari Pahlawan di hari minggu 10 November 2013, Saya dan Ayah hendak melayat kerabat yang ada di kota seberang. Di sana Embahnya suami Bulik saya berpulang ke Rahmattullah. Berdasar info yang kami terima via SMS bahwa jenazah akan di kubur pada hari minggu pukul 10 pagi. Berdasar info tersebut maka saya dan ayah bersiap betul sejak pagi buta untuk menuju tempat tersebut, maklum tempat rumah duka berada jauh di selatan yang berjarak 85 km dari tempat tinggal saya.

Dengan di temani motor buatan luar negeri milik saya yang sangat lincah kami berangkat pukul 07.00 pagi. Saya sebagai joki kala itu menggeber dengan kecepatan sedang dan sesekali menggeber dengan kecepatan rendah. Kecepatan ini saya ambil karena medan yang kami tempuh berupa tanjakan, turunan dan kelokan yang lumayan ekstrim.

Jalan yang kami lalui tidak selalu mulus, ada kalanya aspal jalan yang kami lewati sangat mulus aduhai bagaikan hamparan marmer, tapi tak jarang juga Saya dan Ayah menemui kolam lele dan sumur di tengah jalan.

Jalan beraspal yang bergelombang adalah karakteristik yang sering kami jumpai dibeberapa kesempatan. Belum lagi tanjakan, turunan dan lekukan jalan yang ekstrim sangat menuntut ke hati-hatian dan sedikit menguras konsentrasi pada saat itu. Hutan / alas yang penuh pepohonan dan pegunungan padas adalah panorama lain yang kami temui di beberapa titik.

Perjalanan sepanjang 85 km dengan kenampakan dan karakteristik jalan yang lumayan menantang stamina, akhirnya kami lewati dengan selamat. Kami tiba di tempat tujuan pukul 9.30 pagi. Maklum daerah yang saya lewati tidak macet layaknya kota Jakarta, paling 2 jam 30 menit hanya mampu menempuh jarak 10 s/d 15 km.

Kami transit di rumah Bulik terlebih dahulu untuk sekedar melepas lelah karena telah melakukan perjalanan panjang. Segelas teh hangat dan camilan kecil menemani jamuan di pagi itu. Lelah pun perlahan hilang. Di tengah suasana santai rehat kala itu mata saya tertuju ke sebuah buku kecil berukuran 20x15 cm. Saya terpikat oleh judul buku tersebut yang bertuliskan

“BELAJAR MEMBACA TANPA MENGEJA”

Hebat benar buku ini gumam saya. Judul ini yang memikat saya untuk segera membaca isi di dalamnya.

panduan belajar membaca anak, cara belajar mengeja, buku panduan, ada tawa dibalik bela sungkawa

Buku yang terbit di bulan April 2008 ini seakan memaksa tangan-tangan  milik saya untuk segera membukanya . Buku ini adalah buku panduan belajar membaca untuk anak-anak. Buku ini sama halnya buku belajar membaca untuk anak-anak pada umumnya, namun berdasar judul yang tertera,  buku ini setidaknya mempunyai keistimewaan.

Dengan rasa penasaran yang tinggi akan keistimewaan buku ini, perlahan  saya membuka buku dengan antusias. Baru satu halaman saja mata saya terbelalak bagaikan melihat petasan di area POM Bensin. Betapa tidak kaget, mata saya tertuju pada kata yang tidak semestinya ada di buku anak-anak. Kata ini yaitu

“di sana ada waria”

Ya kata ini yang pertama kali saya jumpai, seketika itu pun tawa dari saya hampir meledak. Saya menahan tawa pada saat itu karena saya sangat menghormati suasana duka yang sedang di alami keluarga Bulik. Saya hanya bisa geleng-geleng kepala sembari tak percaya masa’ buku anak kecil di isi dengan kata-kata yang bukan porsinya. Penulise ki pye?

Coba anda bayangkan jika buku semacam ini menimpa anak anda yang sedang membaca, karena penasaran kemudian anak anda bertanya dengan polosnya ,

Anak anda : Ma, Waria itu apa ?

Nah, bagaimana kita akan menjawab pertanyaan ini. Jika di jawab apa adanya dia masih anak-anak kalau di jawab tidak sebenarnya nanti malah dia jadi salah menafsirkan kata itu.

Anda          : Waria itu laki-laki yang mirip perempuan nak ?
Anak Anda : temenku si Rudi berarti waria donk Ma?
Anda      : Emang kenapa sayang dengan si Rudi?
Anak Anda: Karena wajah dia mirip perempuan, mirip perempuan seperti Kakaknya.
Anda           : *6%6*@@#???!! Waduh..........

Serba salah kan kita ?.

Kata yang merupakan porsi untuk orang dewasa semacam ini belum layak untuk dikonsumsi anak-anak. Jika kata-kata semacam ini terus di cekokan lewat buku bacaan atau buku pelajaran anak, tidak bisa dibayangkan, hal ini akan merusak mental anak-anak kita.

Kemudian rasa penasaran saya berlanjut ke halaman lain. Lagi- lagi kata yang aneh dan tidak baku banyak saya jumpai. Saya hanya bisa geleng-geleng kepala sembari bergumam “jane ki penulise iki pye?”.

Tak berselang lama, Saya pun segera meninggalkan buku aneh yang telah saya baca itu, karena sebentar lagi jenazah akan segera dikebumikan. Saya bersama Ayah dan Bulik segera bergegas menuju rumah duka yang berada di 100 meter arah timur dari rumah Bulik.

Saya dan Ayah ingin melayat sekaligus ingin memberikan penghormatan terakhir kepada almarhum. Tak lama kemudian, Bapak MC segera memberikan sambutan pelepasan jenazah. Setelah itu jenazah diangkat oleh beberapa orang untuk di segera di kebumikan di pemakaman setempat.

Saya bersama Ayah kembali ke rumah Bulik setelah proses bela sungkawa tersebut selesai.

Di ruang tamu berukuran 3x6 meter ini, rasa penasaran saya kembali menyeruak, ingin segera membuka buku bacaan yang menggelitik tersebut. Halaman demi halaman dan kata demi kata coba saya amati. Lagi !!.... banyak kata yang saya temukan sangat aneh dan diantaranya adalah kata yang bukan porsi untuk anak-anak masih banyak saya jumpai di buku itu. Kata yang tidak baku secara tulisan dan pelafalan ini secara jelas terpampang di buku tersebut.

Tulisan demi tulisan yang ada, sewaktu-waktu dapat memancing gelak tawa para pembaca. Namun bagi anda yang tidak paham pada level tertentu di harapkan tidak membaca buku tersebut, karena di khawatirkan anda akan berbuat anarkis terhadap buku itu.

Di bawah ini adalah beberapa kata yang berhasil saya catat dalam ponsel Chinese milik saya.
  1. Yati namanya tiga cucunya.
  2. Dia lagi gila.
  3. Kata mama aku suka ragi.
  4. Ibu baru punya bayi lagi.
  5. Lama ibu kita mau punya bayi.
  6. Lama cica ngira dia punya ibu.
  7. Jadi manusia kudu maju.
  8. Nyata sekali kalau dia itu ibumu.
  9. Mengapa kamu mengira aku bisa.
  10. Ketika aku kesana dia ada disana.
  11. Kata papi begitu tabu.
  12. Mama digoda sama papa.
  13. Kini dia jadi narapidana.
  14. Pasutri pasutri kranggan kranggan.
  15. Papi suka cawe cawe.
  16. Ibu jadi ngilu.
  17. Jika kami maka mami kami.
  18. Bapa nabila laki laki.
  19. Katanya dia kena guna guna.
  20. Mami menyalami ibunya.
  21. Pemuda pemudi negeri ini jago.
  22. Mama digoda sama papa.
  23. Kota itu di hujani peluru.
  24. Nabila suka hawa disini.
  25. Sopi rela dipukuli demi ibu.
  26. Bila sobiri jadi jejaka dia mau.
  27. Selama ini aku jadi bibimu.
  28. Aku mau jadi cucu neneku
  29. Bobi memukuli babi.
  30. Aku lupa kalo aku laki laki.
  31. Nama calo ini koko.
  32. Dodo mau aku sama papi.
  33. Bisa jadi dia manusia loba.
  34. Rupaku sama rupa mamaku.
  35. Jaka bisa saja sama bibi.
  36. Mahesa itu manusia jago.
Mari kita baca dan kupas satu persatu>>
  
(1) Yati namanya tiga cucunya.

Kata rancu ini akan lebih baik jika di ganti Nenek Yati mempunyai tiga cucu.

(2) Dia lagi gila.

Seharusnya kata-kata semacam ini tidak pantas ada di buku anak-anak. Keberadaan kata-kata ‘Gila’ dan sejenisnya di buku bacaan anak di khawatirkan akan mempengaruhi mental anak.

(3) Kata mama aku suka ragi.

Ini apa-apaan coba?. Mana ada anak kecil yang suka makan ragi.? Ragi adalah zat berupa mikroorganisme jamur sebagai bahan campuran pangan, tidak boleh di makan secara mentah. Suka di sini maksudnya apa? Kata ini kurang pas untuk anak. Akan lebih baik jika kata “Ragi” diganti dengan kata yang lazim untuk seukuran anak kecil. Kata “Ragi” bisa diganti dengan kata boneka, mobil-mobilan, buku, roti dsb.

(4) Ibu baru punya bayi lagi.

Kata ini jelas bukan porsi anak-anak. Masa’ anak kecil bicaranya seperti orang dewasa saja.

(5) Lama ibu kita mau punya bayi.

ini apa-apaan coba?. Anak kecil ikut campur urusan orang tua saja !

(6) Lama cica ngira dia punya ibu.

Kata yang sering menjadi topik perbincangan ibu-ibu rumpi komplek sebelah ini sepantasnya tidak ada di buku anak.

Jelas kata ini rancu dan tidak baku serta bukan porsi untuk anak-anak. Seharusnya tidak pantas berada di buku bacaan anak-anak.

(7) Jadi manusia kudu maju.

Sebenarnya kata ini adalah motivasi yang baik, namun perlu di ketahui bahwa kata untuk buku bacaan hendaknya harus memuat kata baku yang sesuai dengan EYD yang berlaku.

(8) Nyata sekali kalau dia itu ibumu.

Lagi !.. Kata yang sering muncul di sinetron era 90’an ini ada di buku anak. Kalimat ini jelas bukan porsi untuk anak-anak.

(9) Mengapa kamu mengira aku bisa.

?????

(10) Ketika aku kesana dia ada di sana.

Kata yang rancu maksud dan tujuannya ini mungkin akan lebih baik jika diganti “Ketika aku ke rumah nenek, paman juga ada di sana” atau bisa di ganti dengan kata lain yang lebih baik secara EYD.

Dalam beberapa konteks kalimat tertentu atau dalam kalimat seperti di atas, menurut saya penggunaan kata “kesana” dan “dia” pada bacaan khusus porsi anak-anak harus jelas merujuk suatu tempat dan orang.

(11) Kata papi begitu tabu.

Ini apa-apaan lagi coba?

(12) Mama di goda sama papa.

Jelas kalimat ini bukan porsi untuk anak-anak. Seharusnya tidak pantas berada di buku bacaan anak-anak.

(13) Kini dia jadi narapidana.

Jelas kalimat ini bukan porsi untuk anak-anak. Seharusnya tidak pantas berada di buku bacaan anak-anak. Penggunaan kata “narapidana” jelas bukan porsi anak, belum saatnya anak usia belajar membaca di cekokin kata semacam itu. Di khawatirkan akan mempengaruhi mental anak. Alangkah baiknya berikan kalimat sesuai dengan usia anak.

(14) Pasutri pasutri kranggan kranggan.
????

(15) Papi suka cawe-cawe.

cawe-cawe (bahasa jawa) artinya ikut campur. Sebaiknya jangan mengkombinasikan bahasa daerah dalam sebuah kalimat tunggal pada kalimat yang di peruntukan belajar membaca. Jika itu kalimat untuk sebuah karya cerita atau narasi lain yang menghendaki bahasa daerah digunakan/dicantumkan, itu saya rasa boleh saja.

(16) Ibu jadi ngilu.

ini apa-apan coba!!!!!! Silahkan pembaca mencermati dan menafsikan sendiri apa maksud dari kalimat ini. Kata tersebut seharusnya tidak layak berada dalam buku baca anak.

(17) Jika kami maka mami kami.

Ini apa lagi??

(18) Bapa nabila laki laki.

Di belahan dunia manapun seorang Bapak atau Ayah itu berjenis kelamin laki-laki. Itu Pasti! Trust me!

(19) Katanya dia kena guna guna.

Jelas kata ini bukan porsi anak-anak dan sepantasnya tidak ada di buku bacaan anak-anak. Secara tidak langsung kalimat di atas akan menjerusmukan anak pada hal-hal berbau klenik. .

(20) Mami menyalami ibunya.

Kalimat ini akan lebih baik jika ditulis “Ibu berjabat tangan dengan nenek”. Sebaiknya kalimat yang ada di buku belajar membaca anak harus bersudut pandang anak sebagai pelaku utamanya. Jadi kata “ibunya” seperti pada kalimat di atas akan lebih pas jika diganti dengan kata “nenek”. Dan sebaiknya penggunaan kata mami, papi dan sejenisnya lebih baik di ganti dengan ejaan yang baku misal Ibu atau Bapak, dsb.

(21) Pemuda pemudi negeri ini jago.

Sebaiknya pemilihan kata untuk buku belajar membaca harus sesuai dengan EYD yang berlaku. Kalimat di atas mungkin akan lebih baik jika ditulis dengan “ Pemuda dan pemudi di negara ini hebat”.

(22) Mama digoda sama papa.
  Jelas kata ini tidak sepantasnya ada dalam buku belajar membaca untuk enak.

(23) Kota itu dihujani peluru.

Menurut saya kalimat ini belum layak ada di buku belajar membaca untuk anak dan bukan juga kalimat yang pas untuk porsi anak. Sebaiknya pemilihan kata/kalimat yang ada di buku bacaan anak harus mempertimbangkan kata yang sekiranya masih berada dalam tingkat pemahaman usia anak.

Kalimat di atas akan lebih baik jika berada pada tempatnya, misal ada di buku novel, cerita peperangan atau kisah-kisah heroik lainya yang tentunya diperuntukan untuk remaja dan orang dewasa.

(24) Nabila suka hawa disini.

Kalimat ini akan pas jika di tulis “Nabila suka dengan udara disini”. Mungkin “hawa” yang dimaksud oleh penulis adalah “udara”.

(25) Sopi rela dipukuli demi ibu.

Ya Tuhan !! ini apa-apan lagi coba???. Rela berkorban untuk kebahagian orang tua adalah hal yang mulia, tapi juga tidak gitu-gitu amat kale’ .

(26) Bila sobiri jadi jejaka dia mau.

OMG!! Iki yo opo sih rek???. Kata yang sering tampil di acara rumpi berjamaah ala ibu-ibu komplek sebelah ini , selayaknya tidak ada di buku belajar untuk anak.

(27) Selama ini aku jadi ibumu.
????

(28) Aku mau jadi cucu neneku.

Tidak perlu mengungkapkan kata “mau”, jika kita punya nenek otomatis kita jadi cucunya. Kalimat yang kurang pas seperti ini harus sebisa mungkin tidak ada di buku belajar membaca anak. Info: Kata “neneku” yang saya tulis adalah sama seperti yang tertera dalam buku.

Jadi dapat disimpulkan bahwa penulis kurang teliti dalam penulisan. Kata “neneku” seharusnya ditulis “nenekku”. Jika itu buku ditujukkan sebagai media belajar, ya seharusnya memenuhi standar ketelitian dalam penulisannya.

(29) Bobi memukuli babi.

Ya Tuhan !.. Apa dosanya si Babi sehingga Bobi tega memukuli saudaranya sendiri ?! . Jelas kalimat di atas tidak sepantasnya ada di buku belajar membaca untuk anak. Kalimat di atas secara tidak langsung ditakutkan akan mengajarkan tindak kekerasan pada diri anak.

(30) Aku lupa kalo aku laki laki.

Ini apa-apan coba ?? Masa’ lupa sama jenis kelaminya sendiri.
I can’t discraibe this sentence to much.

(31) Nama calo ini koko.

Kalimat ini tidak selayaknya ada di buku belajar membaca anak. Jelas kalimat di atas akan berdampak tidak baik jika di konsumsi anak-anak. Saya berpendapat kalimat semacam ini dan sejenisnya belum pas pada tingkat pemahan anak. Sebaiknya kita harus membuat kalimat dengan sesuai porsi anak, misal “Nama penjual roti itu adalah Dudung”, dsb

(32) Dodo mau aku sama papi.

Sebaiknya penulisan yang ada dalam buku belajar membaca untuk anak harus jelas secara maksud dan tujuannya. Kalimat di atas tidak jelas .

(33) Bisa jadi dia manusia loba.

 Apa lagi ini?!!

(34) Rupaku sama rupa mamaku.
 Ya iyalah !!. Kalau mirip  dengan wajah orang lain bisa jadi kamu bukan anak kandung ibumu .

Kata di atas mungkin akan lebih baik jika di tulis dengan “ Wajahku mirip dengan wajah ibuku”. Meskipun di tulis baik secara EYD yang berlaku, sebaiknya kata aneh semacam ini dan sejeninsya sebisa mungkin di hilangkan.

(35) Jaka bisa saja sama bibi.

Lagi !! Jelas ini kata yang rancu, tidak jelas dan bukan porsi untuk anak. Kalimat tersebut tidak jelas dan justru akan menimbulkan fitnah antara jaka dengan bibi .

Jangan membuat kalimat sepotong-sepotong yang menimbulkan multi tafsir seperti kalimat di atas. Mungkin anak kecil belum memiliki tafsiran sampai ke tahap tersebut, namun saya rasa kita juga harus kasihan jika kata seperti itu dikonsumsi oleh anak-anak.

Kita harus membuat kalimat yang memiliki maksud jelas baik secara makhrot serta ejaannya juga memiliki standar  EYD yang baik.

(36) Mahesa itu manusia jago.

“Bu,. Mahesa itu manusia apa ayam?”. Itulah kalimat tanya yang mungkin akan keluar dari mulut anak anda jika menemui kalimat seperti di atas.

Pemilihan kata pada kalimat yang diperuntukan sebagai bacaan belajar membaca harus menggunakkan kata baku sesuai EYD yang berlaku. Dalam kasus kalimat ini, sebaiknya kata “jago” diganti dengan “hebat” atau dengan kata sejenis yang memiliki maksud yang sama.

Saya harap para pembaca dapat melihat secara jernih terhadap cerita yang saya paparkan di atas. Mohon maaf apabila ada kekeliruan dalam penyampain atau pun ulasan terhadap kalimat-kalimat tersebut, maklum saya bukan ahli atau pun pakar tata bahasa. 

Demikian sedikit cerita yang saya bagikan kali ini. Sekali lagi Cerita di atas bukan untuk merendahkan prosesi bela sungkawa yang berlangsung. Cerita ini hanyalah sisi lain yang saya temui ketika melayat anggota kerabat yang berpulang, tepatnya cerita ini adalah bercerita tentang sebuah buku untuk belajar membaca yang saya rasa musti banyak pembenahan.

Melalui cerita di atas, saya juga berharap kepada si penulis buku untuk lebih hati-hati dan teliti dalam memilih kata yang tepat yang sesuai dengan ejaan baku yang berlaku, agar karya-karya anda lebih baik di kemudian hari.

Cerita ini saya tulis bukan untuk menjatuhkan, mencemarkan atau pun tidak menghormati sebuah karya dari seseorang, melainkan rasa kecintaan saya terhadap karya tersebut agar dapat menjadi lebih baik lagi ke depannya.

Sukses selalu untuk Saudara Penulis buku. Karya-karya terbaik dari anda sangat kami nanti. Semangat & Sukses selalu untuk anda.

~Salam~.