Pengalaman Menjadi Paskibraka Dadakan


Kronologibayu- Dalam upacara bendera atau upacara peringatan hari nasional lainnya pasti membutuhkan petugas upacara dalam setiap penyelenggaraannya. Hal ini hukumnya wajib, karena suatu upacara tidak akan bisa berjalan tanpa ada petugas di dalamnya. (trust me).

Berbicara mengenai petugas upacara, pasti para pembaca mempunyai kenangan tersendiri akan hal ini. Begitu pun saya. Menjadi petugas upacara adalah hal yang setidaknya pernah saya alami ketika masih bersekolah.

Pada saat berseragam putih-merah, saya pernah menjadi pemimpin barisan kelas. Pada saat SMP pernah jadi regu upacara dari tim Pengurus OSIS sebagai pemimpin kompi barisan, pernah juga menjadi regu paduan suara. Ketika berseragam putih abu-abu, saya pernah menjadi petugas upacara sebagai regu paduan suara kelas untuk menyanyikan lagu-lagu nasional kala itu.  Itulah sedikit pengalaman dari saya menjadi petugas upacara.

Dari semua jenis posisi petugas upacara, yang paling saya takutkan adalah apabila menjadi petugas pengibar bendera. Durasi mengibarkan bendera memang tidaklah lama, namun semua mata dan perhatian akan tertuju kepada momentun ini. Dari pembina upacara hingga tim P3K akan tercurah pandangannya ke arah si pengibar bendera. Jadi, jika sampai salah sedikit saja semua orang akan mengetahuinya.

Lebih parahnya lagi adalah kesalahan yang anda lakukan pada saat pengibaran bendera akan menjadi bahan perbincangan hangat di seantero satu sekolahan atau boleh di kata kesalahan yang anda lakukan akan menjadi trending topic. Dari ruang guru hingga kantin dekat parkiran, semuanya akan membicarakan anda dan kesalahan yang anda lakukan pada saat pengibaran bendera.

Masa aktif pembicaraan ini berlaku sejak pertama anda melakukan kesalahan hingga 5 hari kedepan atau kurang lebih satu minggu. Jadi, selama itu juga anda akan menjadi pusat bahan pembicaraan.

Dan, tahukah anda siapa yang pertama kali membicarakan kesalahan anda?. Dia adalah orang memakai peci yang berdiri di tengah barisan upacara. Tidak bukan dan tidak lain dia adalah Bapak Pembina Upacara.  Di atas podium, Beliau akan berkata,

Secara keseluruhan Jalannya upacara sudah berjalan baik, namun masih ada sedikit kesalahan pada petugas pengibar bendera. Saya berharap untuk petugas mendatang agar lebih mempersiapkan diri supaya bisa tampil maksimal

Saya tidak tahu, apakah kata-kata di atas adalah sebuah motivasi atau sebuah kata yang menyakitkan hati, beda-beda tipis memang., Hehehe,, Beruntung selama sekolah saya tidak pernah mendapat tugas mengibarkan bendera. . Jadi saya tidak mengalami hal tersebut.

Pada tahun 2011 atau selang 5 tahun kemudian semenjak terakhir kali saya menjadi petugas upacara (paduan suara), akhirnya hal yang saya takutkan menjadi sebuah kenyataan. Ya, benar sekali pemirsa, saya terpilih menjadi petugas pengibar bendera saat di tahun 2011 ini.

Di tahun 2011 ini, saya sedang mengikuti PPL (program pengalaman lapangan) selama 3 bulan di salah satu SMP bersama teman satu Universitas kala itu. Pada saat itu akan ada momentun peringatan hari sumpah pemuda di minggu depannya.

Guna menghadapi peringatan hari besar nasional itu, guru Koordinator sekolah menunjuk kami tim PPL menjadi petugas upacara. Ada yang menjadi pemimpin upacara, pembaca undang-undang dan lain-lain.

Dalam pembagian tugas ini saya ditunjuk menjadi petugas pengibar bendera. Pada awalnya saya sempat menolak untuk menjadi pengibar bendera. Saya lebih mempercayakan kepada Mahasiswa lain pada saat itu. Namun mereka tetap menunjuk saya.

Saya sempat nervous  juga saat itu ditugaskan menjadi pengibar bendera,. hehehe. Maklum saya belum pernah sama sekali berpengalaman menjadi petugas pengibar bendera.

Seperti apa yang saya utarakan di atas bahwa anda akan jadi pusat perhatian karena prosesi pengibaran bendera adalah tahap penting dalam suatu upacara, jika salah sedikit saja, bisa tahu sendiri. Malunya bukan main.

Penderitaan saya belum berakhir sampai di sini . Dan serunya lagi, saya dipilih berkesempatan menjadi si penarik bendera. Saya pun kembali menolak seraya meminta pindah peran kepada Mahasiswa Olahraga. “Mbok Kwe wae sing narik aku tak sing ngulur wae”, (Kamu saja yang menarik bendera, biar saya yang mengulur talinya).

Saya meminta pindah peran, karena mahasiswa olahraga tersebut lebih baik dalam hal baris-berbaris serta cakap dalam hal upacara (the right man, in the right place). Meskipun saya sudah merengek sembari sembah sujud namun Hasilnya tetap sama saja, dia tetap memilih saya menjadi penarik tali bendera .

Sudah hampir 3 tahun tidak mengikuti upacara bendera sejak lulus SMA dan ditambah belum pernah menjadi pengibar bendera di kesempatan sebelumnya telah menjadi tantangan tersendiri dalam mengemban tugas maha berat bagi saya ini.

Latihan demi latihan pun saya gelar demi lancarnya penampilan kami nanti. Latihan pun di pantau oleh guru olah raga. Dalam latihan ini hanya 1 kendala saya, yaitu gerakan baris-berbaris saya tampak kaku.

Pernah suatu ketika, ketua OSIS kala itu (Cewek) ikut melatih saya. Dia mengajarkan baris yang baik. Saya pun mencoba mengikuti gerakan dia, namun hasilnya tetap kaku,. Hehehe.

Pada saat latihan juga dipantau oleh guru olahraga SMP tersebut. Pada saat latihan Pak Guru OlahRaga pernah mengucapkan sebuah kata pelecut semangat bagi kami, “ Awas ojo sampek ngisin-ngisini lho cah”. Kata ini di maksudkan agar nanti saat tugas upacara di 28 Oktober berlangsung supaya jangan sampai membuat malu.

Hari berganti hari, siang pun berganti malam. akhirnya hari yang dinanti pun tiba. Jumat Wage, 28 Oktober 2011 atau tepat 83 tahun peringatan hari Sumpah Pemuda adalah hari paling berkesan dan hari paling tidak bisa saya lupakan begitu saja. Ya,. Itulah panggung perdana penampilan saya sebagai penarik bendera.

Saya lihat teman-teman lain telah tampak siap. Saya pun juga siap. Saya tidak mau mengecewakan teman lain, meskipun kala itu saya cukup nervous bukan main. Maklum, Jika salah sedikit saja melaksanakan tugas, bisa-bisa reputasi kegantengan saya hancur di depan anak-anak SMP.,hehehe.

Acara demi acara pun telah di mulai. Irama detak jantung pun mulai tak karuan. Tibalah teman saya sebagai Pembawa acara Upacara mengucapkan
“ Pengibaran Bendera Merah Putih”
     (melalui pengeras suara) 

Saat itu juga semua mata tertuju pada kami bertiga.

Dengan langkah mantap penuh keberanian, akhirnya saya ayunkan kaki dengan kemantapan. Langkah demi langkah saya tempuh, tak lama kemudian tibalah kami di hadapan tiang bendera.

Ratusan pasang mata penuh harap menyertai kami. Tampaknya mereka (peserta upacara) tegang juga, takut apabila saat pengibaran bendera akan terjadi kesalahan. Wajarlah, rasa tegang itu datang. Dulu ketika saya jadi peserta upacara juga merasa tegang ketika prosesi pengibaran bendera tiba, takut suatu hal yang tak diinginkan terjadi. 

Bendera Merah-Putih pun telah kami gelar, tibalah saatnya partner saya mengucap

“ Bendera Siap ! ”. 

Dan saat itu juga peran saya mulai dipertaruhkan. Dengan mantap saya mulai menarik tali dengan penuh penghayatan seraya menyesuaikan ketukan irama lagu Indonesia Raya. Langkah ini terus saya siagakan, karena saya tidak mau mendahului atau terlambat dari pengumandangan lagu Indonesia Raya dari tim Paduan Suara.

Tangan saya terus mengayun dan mengayun. Lagu indonesia Raya telah membangkitkan rasa nasionalisme saya, sehingga membuat saya lebih mantap guna tidak melakukan suatu kesalahan. Ditambah lagi kata-kata pelecut semangat dari Guru SMP tempo hari yang berpesan jangan sampai membuat malu telah mengantarkan saya menjadi lebih tenang menguasai keadaan.

Puji Syukur akhirnya pengibaran bendera selamat sampai puncak tiang tepat bersamaan dengan selesainya lagu Indonesia Raya.

Ada suatu hal yang paling mengenang bagi saya yaitu ketika bendera yang saya tarik telah mencapai puncak, seketika itu juga terdengar jelas sayup-sayup suara dari beberapa peserta upacara (murid-murid SMP) mengucapkan kata “ Pas”. Kata ini terucap dengan nada orang yang merasa lega.

Ucapan ekspresi Lega dari para peserta Upacara telah mendukung pernyataan saya yaitu saat prosesi pengibaran bendera tiba, para peserta ikut tegang dan harap-harap cemas itu benar adanya,.hehehe.

Pengibaran bendera telah selesai dan kami bertiga kembali berbaris untuk kembali menuju tempat kami semula. Sesampainya di tempat semula, kami merasa lega penuh syukur dan bangga dapat menunaikan tugas pengibaran bendera Merah-Putih dengan baik. Kami bertiga pun saling pandang dengan wajah yang diliputi rasa bahagia., .

Dibawah ini adalah beberapa momentum yang dapat diabadikan melalui kamera pada saat pengibaran bendera berlangsung.

cerita seru menjadi paskibraka, Apa itu paskibraka, Paskibraka dadakan, pengalaman jadi pengibar bendera  

cerita seru menjadi paskibraka, Apa itu paskibraka, Paskibraka dadakan, pengalaman jadi pengibar bendera  

cerita seru menjadi paskibraka, Apa itu paskibraka, Paskibraka dadakan, pengalaman jadi pengibar bendera

cerita seru menjadi paskibraka, Apa itu paskibraka, Paskibraka dadakan, pengalaman jadi pengibar bendera  

cerita seru menjadi paskibraka, Apa itu paskibraka, Paskibraka dadakan, pengalaman jadi pengibar bendera  

cerita seru menjadi paskibraka, Apa itu paskibraka, Paskibraka dadakan, pengalaman jadi pengibar bendera

cerita seru menjadi paskibraka, Apa itu paskibraka, Paskibraka dadakan, pengalaman jadi pengibar bendera

cerita seru menjadi paskibraka, Apa itu paskibraka, Paskibraka dadakan, pengalaman jadi pengibar bendera  

 cerita seru menjadi paskibraka, Apa itu paskibraka, Paskibraka dadakan, pengalaman jadi pengibar bendera  

cerita seru menjadi paskibraka, Apa itu paskibraka, Paskibraka dadakan, pengalaman jadi pengibar bendera
 
Mungkin orang melihat bendera Indonesia hanyalah sebuah kain yang terdiri dari kombinasi warna merah dan putih, namun bagi saya lebih dari itu. Bendera Merah-Putih adalah suatu lambang negara yang lahir dari perjalanan panjang suatu bangsa ( Indonesia) . Ia lahir dari kumpulan spirit rasa nasionalisme dari berbagai suku bangsa di tanah air yang melebur menjadi satu- kesatuan atas nama Negara Indonesia. Jadi, seyogyanya kita harus menghormati dan menjaga bendera negara kita sebagaimana mestinya.

Menjadi pengibar bendera memang hal yang biasa bagi yang pernah mengalaminya, namun bagi saya itu adalah hal yang paling berkesan, setidaknya dapat menjadi cerita di hari tua nanti yang dapat diceritakan kepada anak cucu bahwa kakeknya pernah menjadi pengibar bendera merah putih .

Itulah momentum 15 menit yang paling berkesan dalam salah satu perjalanan hidup saya. Kepuasan pun menyelimuti diri saya yaitu dapat melaksanakan tugas mengibarkan bendera Merah-Putih dengan baik dan lancar. Apalagi ini adalah pengalaman pertama dan satu-satunya dalam sepanjang karir saya selama mengenyam pendidikan formal.

Belum pernah menjadi pengibar bendera sebelumya dan ketika berkesempatan menjadi petugas pengibar bendera tahu-tahu langsung menjadi posisi penarik tali bendera, adalah pengalaman paling sesuatu bagi saya,. (maafkan saya syahroni, kata milikmu saya pinjam).

Melalui tulisan ini tidak lupa saya menyampaikan terima kasih kepada:
  • Rasa Syukur saya panjatkan kepada Tuhan yang telah memperlancar tugas mengibarkan bendera di 28 Oktober 2011.
  • Terimakasih kepada Guru SMP yang telah mempercayakan kami sebagai petugas upacara.
  • Terimakasih juga kepada mahasiswa PPL UNS yang telah menjadi tim solid.
  • Tak lupa kepada Eska Bagus dan Arty Wahyu telah menjadi partner pengibar bendera. Terima kasih.
  • Terima kasih kepada semua yang telah mengantarkan saya untuk menjawab salah satu rasa ketegangan pada diri saya dan sekaligus memberikan pengalaman paling berkesan dalam perjalanan hidup saya.
Dari pengalaman ini saya berkesimpulan bahwa yang mampu mengalahkan rasa tegang/nervous adalah diri kita sendiri. Bukan orang lain atau psikiater setempat. Lawan rasa keteganganmu sekarang !!

~Sekian~



Artikel Terkait:

Kronologi Bayu
Kronologi Bayu Updated at: Monday, June 02, 2014
Blogger
Disqus
Pilih Sistem Komentar Yang Anda Sukai