Ditarik Salah,Tidak Ditarik Juga Salah


Kronologibayu- (Bali, 2006). Pulau Bali adalah salah satu destinasi pariwisata unggulan milik indonesia. Keindahan panorama alam yang memukau disertai kesenian dan kebudayaan yang bernilai tinggi adalah daya magis yang dimiliki Bali untuk menarik wisatawan.

Wisatawan domestik dan wisatawan mancanegara selalu ramai menghiasi pulau Bali disetiap tahunnya. Saya sebagai wisatawan domestik pernah menghiasi pulau Bali disuatu kesempatan. Saya berkunjung ke pulau Bali dalam rangka Tour yang diadakan SMA Saya.

Persiapan fisik dan mental telah saya siapkan jauh hari untuk mengikuti Tour kali ini. Tour yang menempuh jarak ± 570 km jalur darat dan ± 5 km jalur air merupakan rute yang tidaklah ringan. Kerasnya jalur pantura dan hebatnya gelombang selat Gilimanuk adalah saksi bisu perjalanan Saya. Kabupaten Banyuwangi adalah kabupaten terakhir yang sekaligus menjadi pijakan terakhir sebelum menyeberang ke Pulau Bali.

Saya dan rombongan tiba di pelabuhan Ketapang sekitar jam 4 subuh. Di pelabuhan  kami akan naik kapal untuk menaklukan jalur air guna menuju pelabuhan Gilimanuk Bali.  Selat Gilimanuk yang hanya berjarak sejauh mata memandang ini adalah tantangan terakhir sebelum benar-benar kami menjejakan kaki di Pulau Bali.

Rasa lelah dan letih setelah menempuh jarak yang panjang akhirnya terbayar sudah ketika kami menjejakkan kaki di Pulau Bali. Panorama indah, lingkungan yang masih asri dan kentalnya tradisi seni-budaya telah menghipnotis para pelancong. Satu hal yang tidak dapat dilupakan dari Bali yaitu banyak Bule berkeliaran, dari Bule pria-wanita, anak-anak hingga Bule kakek-kakek ada di pulau ini , maklum Bali adalah tujuan pariwisata berskala Internasional. Jadi wajar jika banyak turis asing mampir di Bali.

Sukses di hari pertama, perjalanan wisata berlanjut di hari kedua. Salah satu jadwal wisata kali ini yaitu mengunjungi  sanggar seni Barong. Disanggar ini kami menonton pertunjukkan Barong yang  menceritakan tentang kebajikan melawan kejahatan. Tempat penonton di desain mirip dengan tempat duduk di bioskop dengan Tribun memanjang ke atas.

Pada saat itu Tribun telah dipenuhi oleh para wisatawan lain, sehingga saya dan beberapa teman terpaksa menempati tempat lesehan di depan panggung pertunjukkan. Disitu kami duduk lesehan saling berhimpitan satu sama lain.

Rasa happy menikmati suguhan seni telah menghilangkan rasa sesak berhimpitan. Atraksi Barong sedikit genit menggoda kami yang berada di depannya. Gelak tawa dan jeritan para penonton cewek pecah ketika sang Barong mencoba mendekati kami. Pokoknya, saya dan teman-teman benar-benar terhibur kala itu.

Namun,.di tengah kegembiraan itu timbul sedikit masalah. Masalah ini menimpa teman cowok yang berada di samping saya. Seketika itu juga teman saya berbisik kepada saya.
  • Teman cowok : Hey? 
  • Saya                :  opo? (apa?) 
  • Teman cowok : “Ngetno iki?” (lihatlah ini?). sambil menunjuk kaki kanannya.
Saya pun mengikuti arahan teman, dan benar!!. teman saya berada dalam keadaan genting. Ketika saya lihat,. ternyata Kaki kanan teman saya ini terduduki oleh pant*t penonton cewek. Penonton cewek ini adalah cewek dari kelas lain yang merupakan rombongan tour dari sekolah kami.

Keadaan di atas semakin diperparah dengan terlihatnya, Maaf. CD si Cewek. Ya, Pada saat itu si Cewek mengenakan Kaos Ketat berwarna Pink dan mengenakan celana pensil.

Kaos yang hanya seukuran sepinggang itu secara tidak sengaja menyibak keatas akibat digunakan duduk dalam posisi lesehan, maka terlihat jelas CD si Cewek.

Keadaan seperti itu semakin menambah kegelisahan teman saya. Ditengah riuh kegembiraan para penonton lain,  teman saya kembali berkata kepada saya.
  • Teman cowok: “Sikilku iki yen tak tarik salah, ora tak tarik yo salah,.aku gak penak kro  cah iki”. (Kakiku ini kalau saya tarik salah, tidak saya tarik juga salah, aku merasa nggak enak sama anak ini). 
  • Saya               : “yo wis tok no wae naknu,.” (ya sudah,.biarkan saja klo begitu..)
Saya dan teman hanya diam saja atas keadaan itu. Kami berdua diam tidak bermaksud ingin menikmati pemandangan yang “tersaji” di depan mata melainkan perasaan “rikuh perkewuh” sebagai orang Jawa  membuat kami berdua merasa tidak enak hati menegur si Cewek tadi. Boleh dikata peristiwa saat itu menjadikan dilema tersendiri bagi kami berdua, lebih-lebih bagi teman saya ini.

Akhirnya Kami berdua hanya diam saja sembari melanjutkan menikmati pertunjukan Barong yang semakin seru. Serunya pertunjukkan Barong sedikit melupakan kejadian yang terjadi. Keseruan pertunjukkan juga membuat si Cewek sampai tidak terasa telah menduduki kaki orang lain.

Hampir 30 menit kejadian itu menimpa teman saya. Ya,. BENAR sekali. Kaki teman saya gempor-gempor kesemutan dan sedikit tertatih-tatih ketika hendak berdiri .

Kritik dari kejadian di atas adalah
  • Perhatikan posisi duduk ketika berada ditengah keramaian banyak orang.
  • Tingkat Modis busana wanita bukan diukur dari keseksian busana yang dikenakan, melainkan berpakaian rapi dan sopan adalah Modis yang sebenarnya.
  • Untuk teman saya, jika mengalami kejadian serupa di lain hari, cobalah memberanikan diri untuk menegur orang yang bersangkutan.
~Sekian~


Artikel Terkait:

Kronologi Bayu
Kronologi Bayu Updated at: Wednesday, May 07, 2014
Blogger
Disqus
Pilih Sistem Komentar Yang Anda Sukai