Akhir Petualangan S1 Bayu


Pengalaman wisuda bareng anaknya jokowi, cerita pengalaman Wisuda mahasiswa UNS, Wisuda mahasiswa FKIP Pendidikan sejarah
Kronologibayu- Hari berganti hari, siang berganti malam, senin berganti selasa dan begitu juga seterusnya. Roda waktu terus berputar sesuai irama ketentuan Tuhan. Suka, duka manis dan pahitnya hidup adalah asam garam kehidupan yang selalu menyertai perjalanan hidup setiap insan.

Tak ada yang bisa mengelak jika mendapat musibah dan tak ada yang menolak jika diberi kebahagian. Susah dan senang adalah karunia Tuhan yang harus kita syukuri dengan bijak.

Musibah, halangan atau kesusahan adalah wujud kasih sayang Tuhan agar umat Nya dapat tumbuh berkembang menjadi pribadi-pribadi yang tangguh dan kuat.

Kebahagian atau kenikmatan adalah hadiah terindah kepada umat manusia yang telah berhasil melewati ujian dan cobaan yang telah diberikan Tuhan.

Kebahagian akan menjadi lebih nikmat apabila kita syukuri, dan akan membuat kita terlena apabila kita takabur.

Bersyukur secara bijak atas semua pemberian Tuhan adalah solusi terbaik atas asam garam kehidupan yang akan terus kita hadapi. 

Bersyukur adalah tema tulisan kali ini. Syukur adalah kata yang tepat untuk menggambarkan hari sabtu, 7 Desember 2013. Akhir pekan di minggu pertama bulan Desember ini terasa sangat istimewa bagi saya dan bagi orang-orang yang sama-sama senasib dengan saya pada saat itu.

Toga berwarna hitam berada di kepala dan samir berbandul kuningan logo kampus tercinta melingkar di leher. Paduan pakaian serba hitam kala itu melengkapi kebahagian saya dan beberapa teman seperjuangan.

Saya dan beberapa teman seperjuangan kala itu menapaki salah satu momentum penting dalam perjalanan hidup kami, ya Wisuda di hari itu tak akan pernah pudar dalam benak kami sampai kapan pun. Tak ada kata lain selain mengucap syukur kehadirat Tuhan YME yang telah memberikan kami kesempatan untuk menempuh studi hingga lulus di hari itu.

Wisuda memiliki dua arti penting bagi saya, Pertama, Wisuda adalah kebahagian mencapai titik akhir masa studi di perguruan tinggi. Kedua, wisuda adalah gerbang awal di mulainya perjuangan hidup yang sebenarnya di tengah-tengah masyarakat.

Dari pernyataan ini dapat saya simpulkan, bahwa wisuda adalah kebahagian awal seorang mahasiswa menuju gerbang kehidupan nyata di tengah-tengah masyarakat. Meskipun wisuda hanya sebuah ceremony kecil dalam sebuah tata cara studi di perguruan tinggi, namun saya berharap semoga upacara wisuda mampu menjadi kenangan dan spirit tersendiri bagi para wisudawan di Indonesia dalam menapaki hari esok yang lebih baik. amin

Baik, lanjut ke pokok cerita>>

Prosesi Wisuda di Universitas saya di bagi menjadi dua gelombang, gelombang pertama pagi jam 07.30 hingga jam 9.30 dan gelombang kedua jam 9.30 hingga selesai. Saya dan teman seperjuangan di FKIP mendapat jatah pagi. Maka pagi-pagi benar kami harus bersiap.

Saya pun telah bersiap, mandi pagi hingga menyiapkan diri agar tampil prima pada saat wisuda adalah kesibukan saya di pagi itu. Tak lupa doa kepada Tuhan saya panjatkan agar di beri kelancaran dalam proses wisuda nanti.

Setelah persiapan di rasa cukup, Saya dan kedua orang tua memutuskan segera berangkat agar dapat tiba tepat waktu di acara wisuda. Dengan menggunakan sepeda motor, saya dan kedua orang tua saya menyusuri jalan sepanjang 25 Km menuju gedung auditorium tempat dilaksanakannya wisuda.

Suasana hiruk pikuk kemacetan jalan kota tak terasa bagi saya dan kedua orang tua, kebahagian telah mengalahkan suasana penatnya lalu lintas kala itu.

Kami bertiga akhirnya sampai di tempat tujuan setelah menempuh perjalanan panjang. Kedatangan kami bertiga disambut oleh suasana riuh rendah lautan manusia yang memadati area Auditorium dan Rektorat pada saat itu.

Ramainya suasana wisuda kala itu bukan isapan jempol belaka, namun benar adanya. Maklum setiap wisudawan mengajak serta keluarga mereka, bahkan ada beberapa wisudawan yang mengajak keluarga mereka beserta Ketua RT masing-masing.

Dapat dikatakan bahwa area kampus kala itu berubah menjadi taman kebahagiaan keluarga dalam menyaksikan putra-putri mereka lulus kuliah.

Saya pada saat itu hanya memboyong kedua orang tua saya. Kedua adik saya berhalangan untuk hadir pada saat itu. Adik pertama saya berhalangan hadir karena ada ulangan umum di SMA nya, sedangkan Adik saya yang paling kecil (kelas 1 SD) tidak mau diajak datang ke kampus.

Entah apa yang dipikirkan adik kedua saya yang tidak mau menghadiri momentum kebahagiaan kakaknya itu. Adik pertama saya bisa dimaklumi karena ada hal penting guna mengikuti ujian sekolah.

Saya pun berusaha membujuk adik kedua saya untuk ikut acara ceremony sabtu itu. Di bawah ini adalah beberapa percakapan saya dengan adik kedua saya.
Saya: Le, ayo sesok melu mase wisuda?
Adik: Wegah aku ngko ndak di seneni bu Guru  
( dengan intonasi lugu ala anak kelas 1 SD)
Saya: Ngko tak ijinke Bu guru?
Tetap saja adik saya tidak mau.

Orang Tua saya pun juga berusaha membujuknya, segenap reka daya dan upaya telah ibu kerahkan untuk membujuk si anak bungsu, namun hasilnya pun tetap nihil. Ibu yang secara batiniah lebih dekat dengan sang anak pun tidak mampu membujuk adik saya itu.

Adik Saya tetap kukuh dengan keluguannya tersebut. itulah keluguan adik kedua saya yang lebih memilih fokus studi daripada menghadiri acara wisuda kakaknya. Maklum dia masih anak-anak pemirsa. Nampaknya figur guru bagi anak usia tersebut lebih memiliki tempat tersendiri daripada sosok kakaknya. Hehehe.

Para wisudawan telah siap mengikuti ceremony wisuda di sabtu pagi 7 desember 2013 tersebut. Semua tampak berseri-seri. Tak ada raut sedih yang saya dapati kala itu, baik mahasiswa, mahasiswi dan para orang tua mereka tampak sumringah berhiaskan senyuman manis di bibir masing-masing. Hanya orang tua saya saja yang sedikit tak percaya anaknya bisa wisuda. hehehe.

Saya dan mahasiswa yang akan di wisuda pagi itu telah berjajar dan menempati posisi sesuai barisan yang telah ditetapkan oleh panitia penyelenggara. Barisan tersebut memang disiapkan agar tiap mahasiswa terkelompok sesuai program studi atau jurusan masing-masing.

Tak lama kemudian waktu menuju ruang auditorium tiba, maka saya dan para wisudawan berbaris berjalan meninggalkan ruang Rektorat. Kami berjalan rapi menuju auditorium yang ada di belakang ruang Rektorat. Perjalanan sepanjang 25 meter ini memiliki sensasi tersendiri, pasalnya semua mata tertuju kepada kami.

Dari tukang Foto hingga tukang bakso, tukang cindera mata melihat langkah kami. Tak ketinggalan juga keluarga, kerabat, teman maupun sang belahan hati melihat langkah para wisudawan menuju ruang auditorium tempat dilakukannya pewisudaan.

Setibanya di auditorium, kursi demi kursi menyambut kedatangan kami di ruangan itu. Sejuknya AC dan mantapnya dentuman Speaker seakan mengatakan Selamat Datang kepada kami.

Kami duduk sesuai urutan yang telah ditentukan. Setelah semua wisudawan menempati tempat duduk, maka acara demi acara pewisudaan segera di mulai.

Acara wisuda pada saat itu juga terasa sedikit istimewa dengan hadirnya Gubernur DKI yaitu Bapak Ir.Joko Widodo beserta istri. Beliau hadir untuk menyaksikan putri kesayangannya diwisuda sebagai sarjana pertanian.

Bapak Jokowi datang sebagai tamu biasa pada saat itu. Meskipun hadir sebagai tamu biasa, namun setidaknya kedatangan Bapak Jokowi dapat memberikan spirit tersendiri bagi para wisudawan.

Rasa bahagia dan haru para wisudawan bercampur menjadi satu di tengah gelaran acara demi acara wisuda pada saat itu. Rasa bahagia terpancar di wajah para wisudawan ketika memasuki acara inti wisuda.

Acara inti wisuda yang saya maksud adalah acara simbolis berupa penggeseran kuncir Toga oleh  Rektor atau Dekan masing-masing yang disertai penyerahan Ijazah.

Acara simbolis berupa penggeseran kuncir ini di mulai dari Mahasiswa yang berpredikat dengan pujian (Cumlaude) kemudian di susul oleh mahasiswa lain hingga semua selesai.

Dalam memasuki acara inti inilah rasa haru dalam benak saya muncul. Ketika masih di tempat duduk menunggu giliran maju penggeseran kuncir, saya sempat menoleh ke arah tribun kanan atas di mana ayah saya berada.

Seketika itu pun rasa haru dalam benak saya semakin kuat. Jujur saja, tangis haru hampir pecah pada diri saya ketika melihat ayah. Namun tangis yang hampir pecah ini saya tahan, maklum saya tidak ingin reputasi kegantengan saya hancur di hadapan wisudawati disekeliling saya. Hahahaha..

Rasa haru dalam benak saya ini muncul karena teringat betapa luar biasanya jasa dan pengorbanan serta tekad orang tua dalam menyekolahkan saya. Terima kasih Ayah dan Ibu...semoga limpahan pahala dan berkah selalu tercurah kepadamu.

Akhirnya giliran penggeseran kuncir dan bersalaman dengan Bapak Dekan pun tiba, bersama teman satu deretan, kami berbaris rapi depan belakang untuk antri penggeseran kuncir.

Jantung saya semakin berdetak cepat tatkala giliran saya semakin mendekat. Saya semakin gugup lantaran rasa was-was akan hal yang tidak di inginkan terjadi

Ngko yen kepleset gek pye?..
Ojo-ojo ngko Pak Dekan ngomong “Maaf Mas,. Anda siapa ya?”.

Itulah perasaan yang berkecamuk dibenak saya kala itu, sehingga pikiran yang tidak-tidak menyelimuti pikiran saya. Maklum itu adalah Ceremoni terakbar yang pernah saya ikuti dan terlibat langsung di dalamnya.

Sepatu saya permukaan bawahnya agak sedikit halus telah menjadi ketakutan tersendiri pada saat itu. Saya takut kalau terpleset. Akan tidak lucu jika saat jalan menuju depan Pak DEKAN tiba-tiba saya kepleset, tersungkur, jatuh lunglai tak berdaya. Bisa hancur reputasi saya di depan orang banyak.

Belum lagi acara wisuda pada saat itu disiarkan live steraming lewat internet, bisa-bisa orang dari sabang sampai merauke tahu kalau saya terjatuh. Kalau orang se-tanah air tahu kan jadinya berabe. Di mana-mana orang pasti pada berkata 

“ Mas, yang jatuh kemarin kan?”. 
“kon sing tibo wingi a?” .  
“Kakak, sumber air sudekat ! ”

Puji syukur saya dapat berjabat tangan dengan Pak DEKAN dalam keadaan selamat tanpa ada kejadian memalukan menimpa saya.

Lanjut>> 
Acara demi acara di auditorium pun telah usai di gelar. Maka kami (wisudawan) berpindah tempat menuju gedung fakultas masing-masing untuk mengikuti ceremony kedua yaitu wisuda fakultas.

Sekitar satu jam prosesi berlangsung di gedung Fakultas. Rasa haru dan bahagia terus menyelimuti saya. Tak terasa harus berpisah dengan kawan seperjuangan dan berpisah dengan dosen-dosen yang sangat super. Terima kasih untuk semua.

Beberapa Fakta unik ketika wisuda ke 133 berlangsung.
  1. Wisuda di hadiri gubernur DKI, Kehadiran beliau guna menyaksikan prosesi wisuda putri kesayangannya.
  2. Mahasiswa termuda Cewek 21 tahun S1,. Wisudawan tertua bapak-bapak 56 tahun PGSD (transfer ke S1).
  3. Rektor yang seharusnya hadir dalam pewisudaan dan memberikan selamat kepada mereka yang camluade ternyata tidak hadir. Usut punya usut beliau sedang bertugas ke Colombo.
  4. Dekan FKIP adalah orang paling capek pada saat itu, karena beliau harus menggeser kuncir toga serta bersalaman dengan sekitar 500 orang lebih wisudawan.
  5. Ada beberapa orang tua/ kerabat wisudawan yang lepas dari rombongan, termasuk  Ayah saya juga hampir hilang kontak dengan saya karena ramainya suasana.
  6. Saya dan Ahmad (teman saya) kaget bukan kepalang karena tidak menerima ijazah saat wisuda. Usut punya usut ternyata kualitas foto kami dinilai kurang bagus. Setelah kami ganti foto barulah kami mendapat ijazah. Hehehe
  7. Tidak hanya keluarga wisudawan saja yang merasakan kebahagian , ternyata kebahagian juga terpancar dari raut wajah para penjaja makanan-minuman serta penjaja jasa foto.
pengalaman wisuda bareng anaknya jokowi, cerita wisuda, Wisuda UNS, Pendidikan Sejarah FKIP, Arti Wisuda, Maksud Acara Wisudawisuda uns universitas sebelas maret

Toga yang kita pakai saat wisuda adalah kemenangan sesaat. Terus berkarya & bekerja keras adalah Kemenangan Sesungguhnya

Melalui tulisan ini, saya juga ingin menyampaikan rasa terimakasih kepada:
  •  Allah SWT.
  • Kedua Orang Tua >> Terima kasih atas kasih sayang dan pengorbananmu. Bayu kecil yang dulu bandel dibeberapa kesempatan kini telah beranjak dewasa seiring dengan doa dan kasihmu (bapak dan ibu).
  • Rima dan Satriyo >> Tawa dan semangat kalian membuat kakak pertama menjadi gembira dalam keadaan apapun.
  • Bapak / Ibu dosen yang dengan semangat membimbing kami>> Terima Kasih banyak.
  • Mahasiswa Pendidikan Sejarah angkatan ‘08">>  Kalian luar biasa !!.
  • Wisudawan-Wisudawati periode ke-133>>  Terimakasih, kalian telah membuat hari sabtu,7 Desember 2013 menjadi lebih berwarna.           
-- God bless you all --




Artikel Terkait:

Kronologi Bayu
Kronologi Bayu Updated at: Friday, May 09, 2014
Blogger
Disqus
Pilih Sistem Komentar Yang Anda Sukai