Mushola Berdarah, Anti Klimaks Sebuah Ketegangan


Kronologibayu-  Masa SMA adalah masa yang indah, masa yang penuh kenangan dan masa yang tak terlupakan. Hari demi hari dipenuhi kisah-kisah yang sangat seru dan berkesan, maklum masa remaja adalah masa pencaraian jati diri yang hakiki, So tidaklah heran jika banyak sekali kejadian yang menyelimuti kehidupan remaja SMA.

Dari kisah perkenalan dengan teman baru, mulai mengenal lawan jenis, hingga kejadian-kejadian absurt pun tidak lepas dari dunia remaja SMA. Kejadian-kejadian yang terjadi misalkan mendapatkan teman baru dari Kecamatan lain, mempunyai teman baru dari SMP lain yang diterima di SMA yang sama, bahkan mendapatkan kenalan siswi cantik pun tidak terelakkan.

Sekali lagi,. harus Saya katakan bahwa Masa SMA adalah masa yang indah, masa yang penuh kenangan dan masa yang tak terlupakan.

Teringat oleh Saya ketika masih duduk di bangku kelas X dan bisa dibilang saya adalah murid baru. Dengan kepolosan dan keluguan yang masih menyelimuti saya kala itu, saya mencoba menapaki masa remaja SMA yang penuh liku-liku. Maklum jika pada saat itu saya polos dan lugu, maklum saya adalah pemuda dari kampung. Jadi pernyataan saya ini bukan isapan jempol belaka namun benar adanya. .. tapi tidak sampai tahap Culun atau kuper, masih dalam kepolosan dan keluguan yang wajar. Hehehe...

Lingkungan baru, suasana baru dan teman baru adalah motivasi untuk menuntut ilmu pada jenjang SMA. Ilmu Pengetahuan dan pengalaman baru semakin bertambah dengan seiring berjalannya waktu. Semuanya itu terbalut indah dan terbingkai manis dalam status Putih Abu-abu.

Sedikit Flashback ke masa-masa awal SMA atau tepatnya kenangan di bangku kelas X. Pada masa itu saya memiliki kenangan tersendiri dengan Mushola di samping kelas. Meskipun berukuran kecil namun peran tempat ini sangat vital, dari kajian pagi oleh kakak-kakak Rohis, hingga kegiatan shalat terjadi di Mushola ini.

cerita lucu murid sma, ketika itu keadaan telah mencekam, tapi apakah ini bebar-benar saya mau di adili, Mushola berdarah, SMA kelas X, SMA Negeri 1 karanganyar,
[ Saking dekatnya Mushola dengan kelas saya, sampai-sampai saya memiliki kejadian tidak terlupakan hingga saat ini ]

Kejadian bermula ketika saya hendak mengikuti shalat dzuhur berjamaah. Kemudian saya bergegas menuju Mushola samping kelas. Saya lihat suasana luar Mushola tampak sepi hanya ada saya sendiri, sedangkan semua jamaah telah masuk ke dalam Mushola. Karena takut terlambat berjamaah, saya bergegas ambil air wudhu.

Dengan sedikit tergesa-gesa saya menyusul jamaah yang berada dalam Mushola.  “Pikir saya, pasti saya sudah tertinggal beberapa rekaat”. Belum sampai ke dalam mushola dan baru menapakkan kaki di teras Mushola, tiba-tiba salah seorang kakak kelas keluar dari dalam Mushola. Tanpa Basa-Basi, si Kakak kelas langsung menghampiri saya. Kemudian tangan saya dipegang erat olehnya. Bagaikan anggota Densus 88, Kemudian Kakak Kelas tersebut menggelandang saya masuk ke dalam Mushola.

Di dalam Mushola para jamaah telah berdiri semua, Keadaan pun hening.  Saya sedikit gugup dan takut. Jangan-jangan saya di interogasi gara-gara terlambat shalat berjamaah (pikir saya dalam hati). Belum lagi postur kakak-kakak kelas yang tinggi besar menambah berkecamuknya ketakutan saya. Suasana yang mencekam kala itu semakin membuat saya yakin, pasti saya akan diberi hukuman.

Setelah melewati beberapa barisan jamaah, tibalah saya di depan mimbar Mushola dan seketika itu para jamaah menatap saya dengan muka serius (maklum kami belum saling kenal). Dari keadaan ini semakin memantapkan dugaan saya kalau saya pasti benar-benar akan mendapat hukuman atau wejangan dari kakak kelas karena terlambat shalat berjamaah.

Keringat dingin mengucur deras, detak jantung berdetak hebat ketika saya berada tepat di depan mimbar dan menjadi pusat perhatian. Perlahan “Sang eksekutor” (baca: kakak kelas) melepaskan genggaman tangannya.

Sebelum kakak kelas mengutarakan maksud dan tujuannya, Saya sempat berspekulasi tentang kata apa yang akan keluar dari mulut sang Kakak.

Pertama, saya berspekulasi pasti dia akan mengatakan “Selamat Ulang Tahun..Whis you All the Best. Ternyata spekulasi pertama salah dan tidak tepat. Maklum hari itu bukan hari kelahiran saya.

Kedua, pasti dia akan mengatakan “Maaf Dik, aku telah mendesain kejadian ini semua. Sebenarnya aku...aku Mencitaimu. Maukah kau jadi Pacarku?”. Ternyata bukan juga kata ini. Maklum kami sama-sama anak laki. Masak jeruk minum jeruk. Beruntung saja kami bukan Homo jadi bukan kata itu yang terlontar .

..........[ Dua spekulasi saya salah total ]..........

Sungguh di luar dugaan saya, ternyata Kakak Kelas mengucapkan kata yang bertolak belakang dengan dua spekulasi awal saya. Perlahan kakak tersebut membuka mulut, dengan penuh berharap ia berkata.......

Dik, Tulung Komato..?! (bhs Jawa)
(dik, tolong iqomahlah.?!)

Oawalah, gur njaluk Tulung Komat tibak’e (teriak dalam hati Saya). Saya pun menyanggupi permintaan itu dan segera mengumandangkan Lafadz iqomah sebagai tanda di mulainya sholat dhuhur berjamaah pada saat itu.

Saya tertawa dalam hati tanpa ada habisnya setelah mengalami kejadian itu. Hingga sampai rumah pun masih tertawa geli mengingat ulah Kakak kelas itu. Hehehe

Kejadian yang telah saya alami ini telah mematahkan dua anggapan saya.

Pertama, Anggapan kalau saya terlambat shalat berjamah ternyata salah. Bahkan shalat pun belum di mulai.

Kedua, Saya kira selama ini murid SMA 1 Tegal Gede orangnya angker, spaneng (terlalu serius) dalam aktivitasnya di sekolah. Ternyata anak SMA 1 Tegal Gede, orang-orangnya Fun, Friendly, memiliki sense of humor yang tinggi bahkan kadang berperilaku gokil dibeberapa kesempatan.

 ~Sekian~



Artikel Terkait:

Kronologi Bayu
Kronologi Bayu Updated at: Tuesday, April 15, 2014
Blogger
Disqus
Pilih Sistem Komentar Yang Anda Sukai