Awas Ada BULE !


Kronologibayu- (September, 2012). Bule adalah sebuah penyebutan Pribumi terhadap orang-orang berkulit putih yang berasal dari luar negeri. Entah siapa yang pertama kali mencetuskan kata Bule ini, yang jelas sejak Saya masih dalam kandungan hingga besar seperti sekarang ini, kata Bule telah menggema di dalam kehidupan masyarakat Indonesia.

Penyematan gelar Bule kepada orang asing telah menjadi hukum alam di nusantara kita. Baik itu orang dari Eropa, Amerika, Australia, bahkan dari Afrika sekalipun yang memiliki kulit putih harus siap menerima gelar Bule pada diri mereka. Siap atau tidak siap mendapat julukan Bule, itu adalah konsekuensi mereka.

Ada satu pertanyaan.
[ Mengapa Bule suka berjemur di Pantai / di Kolam renang?..Usut punya usut ternyata mereka ingin menghitamkan kulit mereka supaya tidak lagi dijuluki Bule kala berkunjung ke Indonesia.. Just kidding ]

Selain berkulit putih, kebanyakan Bule juga mempunyai rambut Pirang. Ciri semacam ini sering ditiru oleh kalangan Pribumi. Entah apa motivasi Pribumi mewarnai rambut mereka menjadi pirang, yang jelas kalangan Pribumi mewarnai rambut mereka dengan perasaan riang. Melihat rambut Pribumi yang diwarnai semacam itu, timbul julukan baru kepada mereka yaitu Bule Mung nDase (Bule Cuma Kepalanya)

Pribumi yang meniru rambut Pirang ala Bule ini tidak jarang mendapat kata-kata ekstrim dari kalangan masyarakat,  misal Rambut Kog Neyeng (Rambut Koq Berkarat). Rambute Kae Kodanan trus teyengen (Rambutnya Dia kehujanan, terus berkarat). Bukan mendapat penilaian elegan dari masyarakat, justru kata-kata yang tidak sedap kerap mereka dapatkan. *Miris memang-. Maka daripada itu, bijak dalam berpenampilan adalah suatu jawaban.

Nb: Mewarnai rambut secara asal-asalan bisa berdampak buruk bagi kesehatan rambut.

Next>>
Berbicara tentang Bule, Saya memiliki pengalaman tersendiri mengenai orang asing berkulit putih ini. Saya pernah tertipu mentah-mentah oleh Bule disaat menyaksikan upacara tradisi.

Pada saat itu September 2012, Saya menghadiri suatu upacara Tradisi di sebuah Petilasan di Karangpandan. Saya datang dalam acara tersebut dalam rangka menyusun Skripsi. Ya. Saya mengambil fenomena upacara tradisi tersebut sebagai kajian Skripsi.

Upacara Tradisi tersebut adalah tradisi upacara Piodalan umat Hindu  Bali. Para umat yang melakukan upacara Piodalan berasal dari warga Hindu Bali dan warga Hindu Solo Raya yang masih trah Bali.  Upacara Piodalan bertempat di dukuh Pasekan dusun Keprabon  Kecamatan Karangpandan.

Upacara tradisi Hindu ini berlangsung di tengah masyarakat Pasekan yang mayoritas memeluk Islam. Hal inilah yang menarik bagi Saya untuk mengkaji bagaimana interaksi antar pemeluk beda agama ini terjadi. Bagaimana persepsi masyarakat Pasekan terhadap tradisi Piodalan yang ada di dukuh mereka dan bagaimana upaya warga Hindu Bali melestarikan tradisinya di tengah lingkungan warga muslim dukuh Pasekan.

Pertanyaan demi pertanyan diatas mengantar saya untuk mengkaji lebih dalam mengenai tradisi Piodalan di dukuh Pasekan ini. Setelah ijin dari Fakultas saya kantongi, kemudian saya melakukan observasi pada pelaksanaan upacara Piodalan.

Pelaksanaan Piodalan di dukuh Pasekan berlangsung meriah.  Banyaknya umat Hindu Bali yang hadir pada upacara tradisi Piodalan membawa saya seakan ke dalam suasana Pulau Dewata. Panorama alam puncak Gunung Lawu terlihat jelas dari lokasi upacara tradisi. Keindahan alam yang tersaji di depan mata seolah membawa saya benar-benar berada di pulau Bali.

Upacara tradisi Hindu di dukuh Pasekan juga dimeriahkan oleh grup Reog Singo Pasek milik warga setempat. Kesenian reog ini tampil di hari ketiga penyelenggaraan Piodalan. Reog Singo Pasek tampil untuk menyuguhkan hiburan berupa kesenian kepada warga yang datang di dukuh Pasekan.

Penampilan Reog Singo Pasek menjadi bentuk toleransi antar budaya Jawa dengan budaya Bali. Hadirnya kesenian reog ini juga menjadi daya tarik tersendiri bagi umat Bali maupun wisatawan yang hendak menyaksikan kesenian reog pada saat Piodalan di dukuh Pasekan.

Saya sangat antusias melakukan observasi di hari ketiga pelaksanaan Piodalan. Saya sangat antusias karena penasaran ingin melihat performance Reog Singo Pasek di sore hari. Jaket Almamater, tas punggung, catatan kecil dan Kamera digital telah siap menemani saya dalam observasi hari ketiga ini.

Saya tiba di lokasi sekitar jam 9 pagi. Setiba ditempat observasi, saya langsung take action. Bagaikan Jurnalis profesional saya mulai mengabadikan moment-moment penting dalam kesempatan kala itu. Dari suasana keramaian pedagang hingga hiasan-hiasan ala Bali saya ambil gambarnya.

Tidak terasa satu jam telah berlalu, jam digital di HP saya menunjuk pukul 10.00 pagi.  Saya mulai merapat menuju area Petilasan karena di dalam area petilasan ini akan dimulai sembahyang Piodalan umat Bali. Prosesi sembahyang Piodalan merupakan moment prosesi upacara yang saya tunggu untuk pengamatan sekaligus pengambilan gambar. Namun Saya tidak langsung masuk area Petilasan.

Saya berdiri di luar Petilasan sekitar 15 menit. Keputusan ini saya ambil karena saya tidak ingin mengganggu umat yang baru saja memulai ritual tradisi Piodalan. Ya. Boleh dikata saya tidak langsung masuk melakukan observasi ke dalam suasana ritual.

Saya mengamati suasana upacara yang berlangsung dari luar petilasan melalui Gang/ pintu kecil di sebelah barat. Saya berdiri tepat di depan Pintu kecil tersebut. Melalui Pintu Kecil itu tampak umat sedang khusuk sembahyang, dari anak-anak kecil hingga orang tua sangat antusias mengikuti puja sembah yang dipimpin oleh Pendeta.

Saya sempat terhipnotis seakan-akan sedang berada di Pulau Dewata ketika melihat orang Bali lengkap dengan ubo-rampenya. Setelah sadar dari lamunan, saya baru ingat kalau saya berada di Karangpandan  Jawa Tengah .

Saya sangat asyik mengamati prosesi upacara Piodalan dari luar Petilasan. Setelah situasi yang tepat akhirnya saya memberanikan diri masuk ke Petilasan untuk mengamati lebih dekat prosesi ritual Piodalan. Saya masuk melalui pintu/gang kecil sebelah barat Petilasan tersebut. 

Ketika kaki saya ini hendak melangkah masuk, betapa kagetnya saya melihat seonggok daging bergerak dari arah dalam menuju keluar petilasan. (Seonggok daging, Baca: Orang). Orang tersebut adalah Dua Bule (ibu dan anak) dan satu warga Bali (ibu-ibu), semuanya adalah wanita. Ketiga orang ini hendak keluar dari dalam petilasan.

Saya sejenak mengurungkan niat untuk masuk melalui pintu tersebut. Saya mengalah agar orang-orang tersebut keluar lebih dahulu. Ladis first !. Ada dua kemungkinan jika saya tidak mengalah dan memaksakan diri melintas bersamaan dengan ketiga orang tersebut,

Pertama, saya akan tergencet diantara Dua Bule dan Satu Pribumi. maklum pintu Petilasan cuma berukuran kecil.

Kedua, kemungkinan terburuk, bisa-bisa saya menjadi manusia terganteng diantara ketiga wanita yang melintas kala itu .
# Syukur dua kemungkinan terburuk ini tidak sampai menimpa saya #

Dua Bule inilah yang membuat saya kaget bukan kepalang. Bule yang berwujud ibu-ibu dan anak kecil seumuran SD ini membuat saya terpaksa mengambil dua langkah untuk menghindar darinya. Bukan mereka mempunyai wajah seram, melainkan Saya takut jika mereka bertanya atau mengajak ngobrol dengan saya. Maklum bahasa inggris saya hanya berada di level 2,5 pada rentang skala 1-10. Jangankan ngobrol, melihat tulisan Inggris yang susah artinya terkadang membuat saya sampai berkeringat dingin .
cerita lucu bertemu bule di Piodalan Karangpandan, trah Pasek, Upacara Tradisi, cerita lucu saat observasi skripsi,

Dengan sigap ala pasukan Paskibraka, Saya ambil dua langkah kebelakang.

Dua Langkah kebelakang Jalan !!!!!,. itulah Perintah Spontanitas dari syaraf motorik yang mengintruksikan kaki-kaki molek milik saya untuk menghindar dari Bule-Bule tadi. Setelah mencapai titik aman dari jarak sang Bule, saya pun menghela nafas lega. Setidaknya saya aman dari si Bule

Ya, aman sih memang., tapi kekagetan yang saya alami belum berakhir. Kekagetan ini terjadi, lagi-lagi akibat Dua Bule tadi. Pada saat mereka berjalan sedikit jauh dari saya, Bule Ibu dan anak tadi terlibat bincang-bincang ringan. Perbincangan tersebut terdengar jelas oleh saya.

Anak Bule: Ma, Mana Reognya?
Ibu Bule    : Nanti sayang, belum ada.

Ya benar sekali !, Mereka berdua berbincang dalam bahasa Indonesia pemirsa. Dan itu terlantun dengan fasih dan tartil baik secara makhrot maupun secara EYD yang berlaku.

Mata Saya pun terbelalak ketika melihat mereka fasih berbincang dengan bahasa Indonesia. 

Benar Sekali, Saya ternyata salah perkiraan.
Saya kira si Bule tidak bisa bahasa Indonesia, Sungguh di luar dugaan ternyata Bule tersebut bisa bahasa Indonesia dengan baik.

Seketika itu juga, Kata-kata penyesalan langsung menyeruak di sekujur tubuh saya.

Tibak’e iso bahasa Indonesia ik. Lha terus ngopo aku ndadak mundur adoh-adoh,..dadi anggonku mundur ki ra ono gunane..
syamsuri-syamsuri !!!!

Hikmah yang dapat saya ambil dari peristiwa kali ini adalah Don’t Judge a book by it’s Cover.

*Celoteh: Seandainya sejak awal si Bule bilang kalau dia bisa berbahasa Indonesia, saya kan tidak perlu repot-repot mundur jauh .

-Sekian-





Artikel Terkait:

Kronologi Bayu
Kronologi Bayu Updated at: Wednesday, April 23, 2014
Blogger
Disqus
Pilih Sistem Komentar Yang Anda Sukai